Whisky galore movie – Neverness to Everness (NTE) menjadi salah satu game gacha yang paling menarik perhatian pada 2026. Game besutan Hotta Studio itu langsung mencuri perhatian sejak hari pertama peluncurannya. Selain mencatat pendapatan besar, NTE juga berhasil menarik jutaan pemain dari berbagai platform.
Namun, kesuksesan tersebut tidak lepas dari kontroversi. Penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif pada sejumlah aset visual memicu kritik dari komunitas dan kreator konten. Isu itu bahkan membuat salah satu kerja sama promosi batal terlaksana.
“Baca Juga: Build Himeko Nova HSR Terbaik: Relic, Light Cone & Tim“
Neverness to Everness Cetak Pendapatan Fantastis
Perfect World Games selaku penerbit sekaligus induk perusahaan Hotta Studio mengumumkan pencapaian finansial terbaru Neverness to Everness.
Dalam dua bulan sejak peluncuran, game tersebut menghasilkan pendapatan sekitar 1,4 miliar yuan atau sekitar Rp3,7 triliun.
Sebelumnya, Neverness to Everness juga mencatat awal yang sangat kuat. Pada hari pertama peluncuran, game ini mengumpulkan sekitar 100 juta yuan atau sekitar Rp265 miliar.
Pencapaian tersebut menunjukkan tingginya minat pemain terhadap game gacha terbaru ini.
Platform PC dan Android Menjadi Penyumbang Terbesar
Laporan dari China Economic menyebutkan bahwa sekitar 60 persen pendapatan Neverness to Everness berasal dari platform PC dan Android.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kedua platform masih menjadi sumber pemasukan terbesar bagi game tersebut.
Meski begitu, pendapatan Neverness to Everness hanya menyumbang sekitar 25 persen dari total pendapatan divisi game Perfect World Games pada tahun fiskal yang berakhir pada 2025.
Data itu menunjukkan bahwa perusahaan masih memiliki beberapa judul lain yang ikut menopang kinerja bisnis secara keseluruhan.
Penggunaan AI Generatif Memicu Kritik Pemain
Di balik kesuksesan finansial, Neverness to Everness menghadapi kritik dari komunitas.
Banyak pemain menemukan dugaan penggunaan AI generatif pada beberapa aset visual di dalam game. Aset tersebut meliputi poster di pinggir jalan hingga video yang tampil pada papan reklame digital.
Temuan itu mengecewakan sebagian pemain. Sebab, Hotta Studio sebelumnya menyatakan bahwa ilustrasi karakter dan aset utama game tidak akan menggunakan AI generatif.
Perbedaan antara pernyataan awal dan kondisi di dalam game memicu perdebatan di media sosial.
Ironmouse Batalkan Kerja Sama Sponsor
Kontroversi semakin besar setelah VTuber populer Ironmouse menyampaikan kritik secara terbuka.
Ironmouse menuduh pihak Neverness to Everness memberikan informasi yang tidak sesuai ketika timnya menanyakan penggunaan AI generatif.
Akibat persoalan tersebut, kerja sama sponsor untuk siaran langsung akhirnya dibatalkan.
Keputusan itu semakin memperbesar sorotan publik terhadap kebijakan pengembangan game tersebut.
Hotta Studio Langsung Ambil Langkah Perbaikan
Hotta Studio tidak membutuhkan waktu lama untuk merespons kritik pemain.
Pengembang segera mengganti berbagai aset visual yang diduga menggunakan AI generatif. Mereka menghadirkan aset baru yang dibuat tanpa teknologi tersebut.
Langkah cepat itu bertujuan mengurangi kekecewaan pemain sekaligus memulihkan kepercayaan komunitas.
Meski demikian, sebagian pemain masih menunggu penjelasan lebih rinci mengenai kebijakan penggunaan AI pada proses pengembangan game.
Kesuksesan Besar Masih Dibayangi Kontroversi
Neverness to Everness berhasil membuktikan diri sebagai salah satu game gacha paling sukses pada 2026. Pendapatan mencapai Rp3,7 triliun dalam waktu dua bulan menjadi bukti kuat tingginya antusiasme pemain.
Namun, kontroversi terkait AI generatif menunjukkan bahwa komunitas kini semakin memperhatikan transparansi pengembang. Kepercayaan pemain menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi reputasi sebuah game, meski game tersebut berhasil mencetak pendapatan yang sangat besar.
“Baca Juga: Build Himeko Nova HSR Terbaik: Relic, Light Cone & Tim“