Whisky galore movie – Dev Game Jepang Ungkap Alasan FPS: Ketika mendengar game FPS asal Jepang, banyak orang langsung teringat Resident Evil 7: Biohazard dan Resident Evil Village.
Kedua game ini berhasil mendapat sambutan luas di pasar global meski hadir dengan elemen survival horror yang kental.
Namun, selain dua judul tersebut, sangat sedikit game FPS Jepang yang berhasil menembus pasar internasional.
Bahkan di pasar domestik, genre FPS cenderung kurang populer dibanding JRPG, action, atau simulasi.
Para developer Jepang juga mengakui sulitnya menembus pasar FPS karena keterbatasan tertentu, terutama soal tema militer.
Salah satu suara yang mencuat berasal dari seorang developer indie asal Jepang bernama Doekuramori, pembuat game Beyond Citadel.
“Baca Juga: Game Upin & Ipin Universe Rilis 17 Juli, Cek Fitur dan Platformnya“
Doekuramori: Game FPS Jepang Gagal Karena Kurangnya Wawasan Militer
Developer Jepang Tidak Paham Konsep Perang seperti CoD
Doekuramori mengemukakan pendapatnya melalui akun X (Twitter) @citadeldev.
Ia menyebut bahwa kegagalan developer Jepang dalam membuat game FPS disebabkan kurangnya pengetahuan tentang dunia militer.
Menurutnya, sebagian besar orang Jepang tidak familiar dengan elemen perang modern yang biasa hadir di game seperti Call of Duty.
Karena itu, ketika developer Jepang mencoba membuat game bertema perang, hasilnya justru terasa asing bagi pasar global.
Mereka seakan mencoba masuk ke medan yang bukan keahlian mereka, dan akhirnya gagal bersaing.
Game FPS Jepang Kalah Pamor karena Dominasi Call of Duty
Doekuramori juga menyebut bahwa dominasi Call of Duty membuat game FPS buatan Jepang sulit bersaing.
Ia menilai banyak developer Jepang terlalu fokus meniru CoD tanpa memahami alasan suksesnya game tersebut.
Bahkan developer barat seperti EA pun pernah gagal meniru CoD saat merilis Medal of Honor: Warfighter.
Padahal, tim asli pembuat Call of Duty berasal dari pengembang Medal of Honor generasi awal.
Jika developer barat saja kesulitan, apalagi developer Jepang yang kurang pengalaman dalam membuat game perang modern.
Saran dari Doekuramori untuk Developer Jepang
Fokus pada Keunggulan Lokal dan Genre yang Dikuasai
Doekuramori menyarankan agar developer Jepang berhenti mencoba meniru Call of Duty.
Ia menilai akan lebih baik jika mereka fokus pada kekuatan mereka sendiri seperti game horor atau aksi bertema lokal.
Contoh nyata keberhasilan bisa dilihat dari Resident Evil 7 dan Village yang mendapat pujian secara global.
Game tersebut tetap mengusung gaya barat, namun disajikan dengan gameplay khas Jepang yang kuat.
Capcom Berhasil karena Kombinasi Arah Barat dan Gameplay Kuat
Doekuramori juga menyebut bahwa Capcom pernah mencoba pendekatan gaya film barat dalam game mereka.
Namun, keberhasilan Capcom tidak datang dari visual atau narasi ala barat saja.
Capcom dinilai sukses karena tetap menyajikan gameplay yang solid dan memuaskan.
Saat Resident Evil pertama dirilis, gaya visualnya bahkan sempat dianggap norak.
Namun, gameplay yang kuat membuat pemain tetap menikmati pengalaman bermain.
Dev Game Jepang FPS: Identitas Asli Lebih Penting daripada Meniru Tren
Developer Jepang perlu mengenali kekuatan unik mereka sendiri jika ingin sukses di genre apa pun, termasuk FPS.
Menurut Doekuramori, meniru tren global tanpa memahami konteks budaya dan kemampuan internal hanya akan berujung kegagalan.
Lebih baik menonjolkan ciri khas lokal dengan mekanik permainan yang kuat daripada mengikuti pasar tanpa arah.
Dengan begitu, game buatan Jepang bisa tetap bersaing dan menciptakan identitas baru dalam genre FPS.
“Baca Juga: Need for Speed Vakum, Speedhunters Resmi Dihentikan EA“