Whisky galore movie – Game horor Jepang kerap menghadirkan karakter wanita sebagai tokoh utama maupun sosok hantu yang menakutkan. Ceritanya sering mengangkat dendam, penderitaan, mitos, dan tradisi masyarakat Jepang.
Ternyata, pilihan tersebut memiliki alasan yang berkaitan dengan sejarah dan budaya Jepang. Dua pengembang ternama, Motoi Okamoto dan Makoto Shibata, menjelaskan latar belakangnya dalam wawancara bersama Dengeki Online.
Okamoto merupakan produser seri Silent Hill, sedangkan Shibata menciptakan seri Fatal Frame. Keduanya membahas ciri khas horor Jepang dalam rangka kolaborasi Silent Hill f dan Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake.
“Baca Juga: Jakarta Game On 2026: Gratis, Hadiah Rp75 Juta“
Sejarah dan Mitologi Membentuk Cerita Horor Jepang
Salah satu alasan utama munculnya karakter wanita berkaitan dengan latar waktu cerita. Banyak game horor Jepang mengambil inspirasi dari masa lalu, ketika masyarakat masih dekat dengan tradisi dan kepercayaan supernatural.
Shibata menjelaskan bahwa Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake mengambil latar sekitar tahun 1980-an. Pada periode tersebut, masyarakat belum mengenal penggunaan ponsel seperti sekarang.
Menurut Shibata, latar masa lampau menghadirkan suasana misterius yang menyerupai horor gotik. Selain itu, tradisi lokal dan lingkungan yang terasa asing dapat memperkuat ketegangan cerita.
Sementara itu, Silent Hill f mengambil latar Jepang pada era 1960-an. Okamoto menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap legenda supernatural dan cerita rakyat masih memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat saat itu.
Silent Hill f Mengangkat Tekanan Sosial terhadap Perempuan
Penulis cerita Silent Hill f, Ryukishi07, mengusulkan tema pernikahan tradisional Jepang dari sudut pandang perempuan. Okamoto awalnya terkejut dengan gagasan tersebut, tetapi kemudian melihat potensi ceritanya.
Pada masa itu, pernikahan yang melibatkan pengaturan keluarga masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Periode tersebut juga bertepatan dengan perkembangan gerakan yang memperjuangkan hak sosial perempuan.
Karena itu, cerita Silent Hill f dapat mengeksplorasi konflik antara tradisi, tuntutan keluarga, dan kebebasan perempuan. Ketegangan sosial tersebut kemudian memperkuat unsur horor dalam permainan.
Hantu Perempuan Menjadi Simbol Penindasan dan Dendam
Okamoto dan Shibata menyoroti hubungan antara penindasan terhadap perempuan dan kemunculan hantu pendendam. Dalam banyak cerita horor Jepang, tokoh perempuan mengalami ketidakadilan sebelum kematian.
Setelah meninggal, mereka memperoleh kekuatan supernatural yang membuat sosoknya semakin mengerikan. Dengan demikian, hantu tidak sekadar menjadi musuh, tetapi juga mewakili penderitaan yang belum terselesaikan.
Okamoto menghubungkan gagasan tersebut dengan tradisi horor Jepang yang menggambarkan perempuan sebagai korban masyarakat yang didominasi laki-laki. Kemarahan dan dendam mereka kemudian terus bertahan setelah kematian.
Salah satu contoh terkenal ialah Oiwa dalam kisah Yotsuya Kaidan. Cerita tersebut menggambarkan seorang perempuan yang mengalami ketidakadilan dan kemudian menjadi sosok hantu yang menakutkan.
Fatal Frame Mengajak Pemain Memahami Para Hantu
Pendekatan Fatal Frame berbeda dari game yang hanya mengandalkan pertarungan fisik. Shibata menjelaskan bahwa pemain perlu mempelajari kisah para arwah dan memahami latar belakang mereka.
Melalui pendekatan tersebut, pemain berusaha menenangkan para hantu yang menyimpan dendam. Proses ini membuat pengalaman bermain terasa lebih emosional karena pemain perlu memahami penderitaan setiap karakter.
Menurut Shibata, protagonis perempuan juga membantu menyampaikan pendekatan cerita tersebut. Tokoh utama dapat menghadapi pengalaman yang memiliki kemiripan dengan penderitaan para arwah.
Sebaliknya, protagonis laki-laki berpotensi mengarahkan cerita pada upaya menaklukkan musuh. Karena itu, Fatal Frame terus mempertahankan tokoh utama perempuan sebagai bagian penting dari identitas serinya.
Karakter Wanita Menjadi Ciri Khas Horor Jepang
Penjelasan Okamoto dan Shibata menunjukkan bahwa karakter wanita memiliki fungsi lebih dalam daripada sekadar menghadirkan sosok menakutkan. Mereka membantu pengembang mengangkat sejarah, mitologi, ketidakadilan sosial, dan dendam.
Melalui cerita seperti Silent Hill f dan Fatal Frame, pengembang menghubungkan pengalaman manusia dengan unsur supernatural. Pendekatan tersebut membuat horor Jepang memiliki ciri khas yang berbeda dari sekadar menghadirkan monster atau kejutan menakutkan.
“Baca Juga: Destiny Remaster Berpotensi Hadir, Ini Bocoran Bungie“